Minggu, 25 Agustus 2013

Kesaksian: Percaya Membawa Mujizat Bagi Anakku

Di jaman serba modern seperti ini, banyak orang mulai meragukan keberadaan mukjizat Tuhan. Kesaksian ini saya tulis, semata-mata Demi Lebih Besarnya Kemuliaan Tuhan (AMDG).
Anak ini adalah mujizat
*courtesy of PelitaHidup.com
Tidak cukup kata-kata yang bisa mendeskripsikan pengalaman keluarga saya selama 9 bulan terakhir ini, akan saya ceritakan sejak awal sampai di titik klimaks lahirnya anak kedua saya.
Baru 10 minggu berlalu sejak saya dinyatakan mengandung. Anak pertama kami, Ieva pulang sekolah dengan wajah berbintik merah. Saya mendapat firasat kurang baik, dan segera ke dokter.
Hati ini rasanya tidak tenang dan di kepala saya sudah terpikir sebuah penyakit yang sangat ditakuti wanita hamil, yaitu virus Rubella. Dokter berkata bahwa anak ini hanya alergi.

Namun hati saya tetap cemas, besok siangnya saya berinisiatif memeriksakan darahnya ke lab. Hasil lab menyatakan Ieva positif terkena rubella. Kami serumah diliputi kepanikan. Bagi ieva sendiri virus ini hanya campak biasa yang akan sembuh sendiri. Namun kalau virus ini sampai masuk ke badanku yang sedang hamil, akibatnya bagi janin bisa fatal (silakan browsing sendiri di Google apakah rubella itu dan akibatnya).
Malam hari itu juga, setelah hasil lab Ieva keluar, saya segera mengungsi ke rumah saudara di kota yang sama. Saya berusaha untuk tidak membuat suami menjadi panik, karena saya tahu pekerjaannya di pulau lain sedang padat juga.
*courtesy of PelitaHidup.com
Inilah kali pertama sejak melahirkan Ieva, saya meninggalkan Ieva. Berat dan sedih, tapi demi calon adiknya, saya harus bertahan. Kalau di rumah yang sama, resiko saya tertular akan semakin besar.
Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 32.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

Hari-hari tanpa Ieva benar-benar berat dan menguras emosi. Tapi dia anak yang tabah, campaknya belum sembuh, dia hanya diam saja dan berpikir sendiri. Tidak menangis teriak-teriak, walaupun ditinggal mamanya sampai 3 minggu.
*courtesy of PelitaHidup.com
Sudah amankah? Tidak, menjelang weekend di minggu kedua, di badan saya muncul bintik-bintik merah,mulai dari tangan, wajah, leher, menyebar ke perut. Saat itu saya betul-betul panik dan putus asa. Ternyata virus itu tetap menular, karena masa inkubasinya bisa 2-3 minggu sebelum gejala ruam merah muncul.
Siangnya saya langsung cek lab, namun hasil lab baru keluar 2 hari kemudian. Malam hari saya kabari suami tentang bercak merah ini, kami betul-betul kehilangan arah. Sampai akhirnya besok subuhnya suami saya langsung memutuskan untuk pulang ke jawa, dan saya berangkat ke jakarta, jadi kami bertemu di jakarta.
Kami mencari dokter-dokter terbaik dalam kasus rubella ini lewat internet. Saat mencari itu, otomatis juga menemukan berbagai artikel mengerikan dari virus ini. Air mata yang terkuras sudah tidak terhitung banyaknya, membayangkan berbagai kemungkinan mengerikan yang bisa terjadi pada anak kami.
Proses selanjutnya tentu sama seperti orangtua lain pada umumnya, berusaha menyelamatkan calon bayinya. Beberapa nama dokter yang kami browsing dari internet, kami datangi. RS Bunda Jakarta tempat Ieva lahir dulu, jadi RS pertama yang kami datangi, kebetulan ada dokter ahli juga yang istilahnya mengurus “fetomaternal”/kelainan janin.
Di ruang dokter, kami mendapat banyak pandangan dari dokter. Ada kata-katanya yang membekas di hatiku, “Bu, tanpa rubella pun, kalau 9 bulan ibu USG semua baik dan normal, lalu tiba-tiba waktu lahir terjadi masalah, apa mau dibuang juga?”.
Rasanya pengen nangis waktu ditanya begitu. Iya ya… Dokter menyerahkan kembali ke saya dan keluarga apa yang harus dilakukan pada calon anak kami yang ke–2 ini, apakah kandungan ini akan diaborsi atau dilanjutkan.
Kemungkinan virus rubella mengenai janin pada kehamilan seperti ini sekitar 80%! Jadi saya hanya punya kesempatan 20% (secara hitungan manusia/ilmu medis).
*courtesy of PelitaHidup.com
Beberapa keluarga, saudara, teman yang mengetahui kejadian ini, tidak sedikit yang menganjurkan untuk terminasi langsung. Siang itu, di tengah kebingungan dan putus asa, saya mendengar satu suara yang sangat jelas, sampai saya yakin itu bukan suara dari pikiranku. Bunyinya “Kenapa kamu tidak percaya kepadaKu?”.
Saya cukup lama tertegun mendengarnya. Saat saya sampaikan pada suami, dia menguatkan saya untuk terus melanjutkan kehamilan ini. Suami saya adalah supporter terbesar, my soulmate…
Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak melakukan aborsi karena kami berpikir bahwa aborsi tidak diperbolehkan secara agama dan kami lebih baik berserah kepada Tuhan untuk menjaga dan menyembuhkan janin yang di kandung. Kemudian dokter memberikan obat dan suplemen untuk menghambat penyebaran virus itu.
Menjalani kehamilan dengan penuh penghargaan, itu yang saya jalani sekarang ini. Saat hamil anak pertama, saya jarang peka merasakan campur tangan Yang Di Atas, beda banget sama yang kali ini. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk berdoa pagi sampai malam, dibantu keluarga, teman, saudara, doa-doa itu makin terasa “keampuhan”nya dari hari ke hari.
Saya percaya tidak ada yang melebihi kekuatan Tuhan, prediksi manusia masih bisa punya banyak kesalahan. Saya bukan orang yang “beriman teguh” atau aktif dalam rohani di kehidupan sehari-hari, tapi membaca banyak kesaksian orang di internet, Tuhan tidak pilih-pilih waktu menyelamatkan manusia, siapapun bisa diselamatkan asal percaya.
Beberapa kejadian “menakjubkan” terjadi dalam beberapa bulan itu:
  • Puluhan ayat “muncul” dengan sendirinya saat kami membuka Alkitab, dan bunyinya selalu pas, selalu menunjukkan arah apa yang harus kami lakukan.
  • Bulan Desember 2011 saya pernah memesan sebuah buku kepada seorang penulis Kristiani, judulnya “Mukjizat Kehidupan”. Namun setelah memesannya, saya lupa. Sampai akhirnya tanggal 8 Desember’11 pagi saya berdoa ingin Tuhan beri hadiah di hari ultah pernikahan keempat kami. Siang harinya buku tersebut tiba. Di dalamnya ada 2 buku mungil, gratis diberi oleh penulisnya, isinya tentang doa-doa untuk kesembuhan, sesuatu yang sangat saya butuhkan saat ini. Sungguh ajaib, seakan Tuhan sendiri yang mengirim bacaan-bacaan itu untuk saya, tanpa saya minta.
  • Saya mengontak beberapa orangtua yang mengalami kasus sama (hamil terkena rubella), ajaibnya Tuhan mempertemukan saya dengan para orangtua yang semua anaknya “selamat”, semua anaknya normal, dan mereka semua sangat pro-life, mendukung untuk meneruskan kehamilan.
  • Intensif berdoa, ajaib, angka titer virus pada bulan ke 5 menurun drastis, bahkan saat bulan ke 7 angkanya sudah negatif! Secara medis tidak banyak yang bisa mengalami itu. Kebanyakan saat melahirkan, angka titer virus di badan si ibu masih positif mengandung virus. Saya percaya ini berkat Tuhan.
  • Saat bingung memilih nama bayi sampai berbulan-bulan saya dan suami belum sreg. Sepupu saya menyarankan untuk mendoakan dan meminta nama dari Tuhan. Untuk nama belakang saya sudah menentukannya, karena 3x ditunjukkan melalui ayat Alkitab. Untuk nama depan, 2 hari setelah didoakan langsung muncul nama yang cocok, nama yang indah menurut kami.
  • Setiap detik selama 7 bulan itu kami menekan perasaan manusiawi, yaitu kecemasan. Setiap kali takut, saya berusaha cepat mengalihkan pikiran dengan berdoa. Doa apa saja, menyampaikan ketakutan saya, berkeluh-kesah pada Tuhan, dan bersyukur untuk hari itu. Doa adalah jalan yang ampuh untuk mencari kedamaian. Saat kandungan 8 bulan pun sempat beberapa kali flek, diberi obat penguat kandungan, dan setelah berdoa, tidak lama fleknya hilang.
Tidak terasa 9 bulan berlalu cepat, Dokter terus memantau perkembangan janin melalui USG. Bulan demi bulan,dan tiba saat melahirkan.
Seminggu sebelum rencana operasi, saya sudah ke Jakarta. Akhirnya Minggu, 6 Mei 2012 pkl 12.27 di RS Bunda Jakarta anak kedua kami lahir dan kami beri nama Imelda Elianna. Imelda artinya “pejuang yang tangguh”, Elianna artinya “Tuhan telah menjawab”.
Dan memang betul Tuhan menjawab doa kami. Selama 5 hari kami di rumah sakit, macam-macam tes dilakukan, dari mata, telinga, jantung, darah. Semua tes lolos dengan baik, kecuali telinga sebelah kiri akan diulang 6 bulan lagi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Namun dari tes darah, dokter menyatakan virus tersebut tidak sampai ke Imelda. Puji Tuhan, Engkau sungguh besar! Sungguh kami berterima kasih kepada Tuhan atas segala kebaikanNya dan belas kasihNya.
Dan saat menulis kesaksian ini, saya kembali ke masa-masa sukar itu, di antara pilihan meniadakan atau mempertahankan anak saya. Di saat itu saya mendengar Ia berkata, “Kenapa kamu tidak percaya kepadaKu?”.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!“ Mazmur 139:13-17
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13


Comments
1 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

1 komentar:

pondok daud mengatakan...

artikel nya begitu memberkati. thanks for sharing.
mampir juga ke web kami
pondokdaud.com -
Streaming MP3 lagu rohani kristen